Bersama OMK dan Remaja Masjid

Bersama OMK dan Remaja Masjid

Canda ria dan kekeluargaan bersamaan dengan Orang Muda Katolik (OMK) dan Ramaja Masjid di Desa Normal

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Mimpi Kecil

Akhinrya saya sampai juga di ibu kota Provinsi saya. Sebuah impian lama beberapa bulan sejak berada di desa Normal 1, sebuah tempat kelahiran saya di Kabupate Lembata, Provinsi NTT.  Impian ini membuata saya bisa ketemu teman sahabat, yang dulu pernah saya tinggali sejak menamatkan study di sebuah perguruan tinggi swasta di Kupang (ibu kota Provinsi NTT).

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

MUSDA I PEMUDA KATOLIK-KEPRI

Salamat Datang di Blog  Saya

Berand Saya,,,

“Komunikasi Sejati Membutuhkan Kesungguhan ,  Ketulusan Pikiran dan Hati;  Karena,,,, Komunikasi Dapat Menyelaraskan Pikiran dan Mendekatkan Hati Kita untuk Bersahabat…..”

“Selamat Ya,,,,Nikmati Beranda saya,

Catatan Peristiwa..

Terpilih sebagai Ketua Formatur memimpin sidang Pemilihan Ketua Komisariat Daerah Pemuda Katlolik Provinsi Kepulaun Riau di Bintan Plaza Hotel Tanjungpinang, 29-30 November 2008 lalu (Galery Photo)

Dipublikasi di Pemuda Katolik | Tag , , | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Duit-duit,,,,,Asal Ngomong Aja..”

Sama Sama  Satu Rahim Tapi Nasib Yang  Membedakan  1000 Vs 100.000

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di Perum PERURI dengan bahan dan peralatan yang canggih. Pertama kali ke luar dari Peruri, uang 1.000 (seribu) dan 100.000 (seratus ribu) sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum, dan menarik…

Namun tiga bulan setelah keluar dari Peruri, uang 1.000 dan 100.000 bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda. Uang 100.000 berkata pada uang 1.000, Ya, ampuunnn  dari mana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet, dan, bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari Peruri, kita sama-sama keren kan… Ada apa denganmu, kawan?

Uang 1.000 menatap uang 100.000 yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang 1.000 berkata,  Ya, beginilah nasibku, kawan. Sejak kita keluar dari Peruri, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan kotoran ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg.

Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke ¿baluang¿ inang-inang. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, dan lusuh karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas Uang 100.000 mendengarkan dengan prihatin,  Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari Peruri itu, aku disimpan di dompet kulit merk Gucci yang bagus dan harum.

Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm¿ dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di kamar hotel bintang lima, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritas. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus, indah, dan nyaman. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan¿aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu.     Uang 1.000 lalu terdiam sejenak.

Dia menarik napas lega, katanya, ¿Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman, harum mewangi. Tetapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu kawan!    “Apa itu?, uang 100.000 penasaran.   Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di masjid atau di tempat-tempat ibadah lainnya. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat , suci,  itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu di sana…

Cerita ini silakan kita memknai dengan kehidupan kita masing-masing.

Kita semua yang bersahabat di media yang sama dengan sebuah rahim yang sama jangan saling menyakiti ya

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar